Sejarah Perusahaan Daihatsu

Sejarah Perusahaan Daihatsu

Daihatsu Motor Company, Ltd. yaitu salah satu produsen “microcars” terkemuka di dunia, dengan teladan yang dipasarkan di lebih dari 120 negara di semua dunia. Jajaran kendaraan beroda empat penumpang kecil, truk, dan kendaraan lazim milik Daihatsu menempatkannya di antara sepuluh produsen kendaraan beroda empat teratas Jepang. Salah satu produsen kendaraan beroda empat tertua di Jepang, perusahaan memelopori segmen pasar utamanya, memproduksi mesin diesel satu liter pertama di dunia. Daihatsu juga pertama kali menyadari di era pascaperang perlunya kendaraan pengiriman kecil roda tiga dan empat; sebagai alhasil, pada tahun 1950 perusahaan memberi tahu minivehicle “Cebol” yang benar-benar berhasil (dijual di Amerika Serikat sebagai “Trimobile”). Menurut kepemilikan 33,4 persen di perusahaan, Toyota Motor Corporation mengontrol kekuasaan veto atas Daihatsu; sekitar seperempat dari produksi yang terakhir diproduksi untuk dipasarkan di bawah papan nama Toyota. Padahal keluar pada 1992 dari pasar A.S., perusahaan konsisten menjadi pesaing internasional ulet di pasar kendaraan kecil dan kendaraan beroda empat listrik. Seketika sesudah penarikannya, Daihatsu mengembalikan konsentrasinya ke teknologi mutakhir seperti kendaraan beroda empat listrik serta pasar kendaraan beroda empat yang sedang berkembang di Asia Tenggara, secara khusus Cina.

Origins Permulaan Abad ke-20

perusahaan daihatsu

Daihatsu Motor Company diawali sebagai Hatsudoki Seizo Company, Ltd., didirikan di Osaka pada tahun 1907 oleh regu profesor dari Universitas Osaka yang proyeknya yaitu untuk memajukan industri kendaraan bermotor dalam negeri Jepang. Tahun itu ada sedikit permintaan untuk kendaraan beroda empat enam daya kuda yang dibangun oleh Perusahaan Hatsudoki Seizo. Sesudah Perang Dunia Pertama, dikala pentingnya kendaraan otomotif dalam perang modern didirikan, produksi kendaraan dalam negeri disokong. Selama masa ini Hatsudoki Seizo memusatkan produksinya pada truk untuk militer, sepeda motor, dan kendaraan roda tiga kecil yang bisa dengan gampang mendiplomasi jalan-jalan sempit dan gang-gang Jepang.

Padahal mendapatkan dorongan dari militer, menciptakan orderan pembelian besar untuk kendaraan bermotor dalam negeri, kendaraan beroda empat penumpang dianggap terlalu berisiko investasi untuk produsen besar Jepang. Sebab tak mempunyai infrastruktur alat mesin yang canggih, Jepang cuma memproduksi 1.000 kendaraan beroda empat penumpang pada tahun 1929, sementara itu mengimpor hampir 15.000, terpenting dari Amerika Serikat. Monopoli asing pasar kendaraan beroda empat Jepang ini usai dengan pengambilalihan militer oleh pemerintah Jepang pada pertengahan 1930-an. Undang-undang Industri Manufaktur Otomotif dilegalkan pada tahun 1935, memberikan insentif pajak untuk bermain judi pada situs https://www.maboswinvip.com/ dan manfaat lainnya bagi produsen kendaraan bermotor dalam negeri. Konsisten saja, bagus Hatsudoki Seizo Company ataupun bisnis otomotif lainnya di Jepang tak berkeinginan mengambil risiko berinvestasi dalam kendaraan beroda empat penumpang, namun terus berpusat pada keperluan masa perang, terpenting truk dan persenjataan militer berukuran sedang.

Pada 1930, Hatsudoki Seizo menjadi bisnis otomotif Jepang pertama yang memproduksi kendaraan roda tiga dengan mesin buatan dalam negeri. Tujuh tahun kemudian mereka memberi tahu “mini four wheeler” pertama. Sebagai hasil dari reputasinya sebagai produsen mesin dan kendaraan kecil, Hatsudoki Seizo kian dipercaya oleh militer, dan perusahaan mulai berkembang; pabrik besar pertama dibuka di Ikeda pada tahun 1939.

Pertumbuhan Pasca Perang Dunia II

Sesudah Perang Dunia II, dengan fasilitas industri Jepang hancur dan negara itu diduduki oleh energi militer sekutu, produsen Jepang disokong untuk membangun kembali dan melanjutkan produksi kendaraan bermotor, terpenting truk dan kendaraan transportasi perkotaan. Melainkan, seperti pada masa sebelum perang, impor kendaraan beroda empat asing dilanjutkan. Stimulasi kongkret pertama untuk industri kendaraan beroda empat dalam negeri serta Hatsudoki Seizo – yang mengadopsi nama Daihatsu Motor Company, Ltd. pada tahun 1951 – yaitu pecahnya Perang Korea. Industri Jepang pulih sesudah orderan pembelian besar diterima dari pemerintah pendudukan sekutu.

Pada 1950-an pembuat kendaraan beroda empat Jepang mengadakan perjanjian teknis dengan produsen Eropa untuk meningkatkan teknologi kendaraan beroda empat penumpang. Pemerintah Jepang, tak lagi ditekan oleh tuntutan militer seperti pada masa sebelum perang, melangkah untuk mensupport dan melindungi industri otomotif dalam negeri, terpenting dengan melegalkan pengontrolan pada kendaraan impor.

Yang paling diuntungkan dari insentif ini yaitu perusahaan yang berpengalaman dalam pembuatan kendaraan bermotor dan mesin, secara khusus Daihatsu dan pesaing utamanya, Suzuki. Pada pertengahan 1950-an, sebuah penelitian riset pasar yang sepenuhnya modern seputar keperluan konsumen, yang dilaksanakan oleh Daihatsu, mengindikasikan harapan yang meluas akan truk tiga roda berkwalitas tinggi, ringan; pada tahun 1957, Daihatsu menjual minivehicle Midget. Pada tahun itu saja, lebih dari 80.000 Cebol dipasarkan di Jepang. Tahun-tahun emas minivehicle dan kendaraan beroda empat penumpang kecil sudah tiba.

Midget dijual sebagai “Trimobile” di Amerika Serikat pada tahun 1959, dan keberhasilannya yang fenomenal di dalam dan luar negeri memungkinkan Daihatsu untuk memperluas dan menjual produk-produk baru, seperti truk empat roda ringan “Hijet” pada tahun 1961.

Artikel terkait : Review Daihatsu Copen (2007)